Strangely Beautiful
a Photography Exhibition by Sandi Kalifadani
April 22 to May 6, 2012
Opening:
Sunday, April 22, 2012 | 4pm – 8pm
at
Lir Space
Jl.Anggrek 1/33 Baciro
Yogyakarta
Be There…
Yogi but Punk!
Pertengahan tahun 2009, saya membaca cerita Marina Silvia tentang sebuah danau yang sunyi, tenang, dingin dan jauh dari jangkauan manusia, yang tertulis di bukunya “Keliling Eropa 6 bulan hanya 1.000 dolar!”. Dari ilustrasi foto dibuku, saya dapat membayangkan suasana danau tersebut yang benar-benar “in the middle of nowhere”. Buat saya rasanya “tranquil” banget. Ahh… tempting.. Saya jadi ingin kesana. Tempat penuh kesunyian selalu menjadi impan saya. Sayangnya lokasinya ada nun jauh disana, di sebuah kota kecil di Rusia bernama Vyborg. Heddeh… Rasanya bakal jadi mimpi belaka untuk bisa datang kesana. Tapi.. apa ya harus kesana untuk bisa menikmati suasana yang sama? Masak sih, danau seperti itu hanya ada disana?
Pikir saya, Indonesia, surga alam liar yang terkenal akan keindahannya, pasti menyimpan danau tersembunyi seperti itu. Lalu tergeraklah keinginan saya untuk mencari kemungkinan adanya danau seperti itu di Indonesia. Dan pencarian panjang tersebut berakhir di sebuah tempat kecil di pelosok dataran tinggi di Jawa Tengah, Dieng.
Hari terakhir di tahun 2011, saya datang ke sebuah kota kecil di pinggiran Wonosobo bernama Kertek. Saya berkunjung ke rumah teman karib saya semasa kuliah dulu. Pagi itu kami memutuskan “picnic” ke Dieng. Tujuan utamanya adalah kaki Bukit Sikunir yang katanya terkenal sebagai tempat menikmati sunrise. Kami (teman saya sekeluarga) saya dan satu karyawan mereka berangkat bersama dengan naik mobil.
Jalanan menuju kesana naik turun dan berkelok-kelok khas pegunungan. Sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan indah landscape perbukitan di Dieng. Di beberapa ruas, jalan berada di pinggir tebing yang curam dan dalam. Ngeri juga pikir saya. Robert, teman saya yang menyetir nampaknya sudah mahir melalui medan seperti ini. Sekitar 1 jam perjalanan kami sudah tiba di pusat “kota” Dieng. Sebenarnya bukan “kota” hanya pusat keramaian di Dieng. Namun tujuan kami bukan disitu. Setelah beristirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan melewati obyek-obyek utama di Dieng seperti Danau Telaga Warna, Kawah Sikidang dan sebagainya.
Setelah melewati Pemangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, tibalah kami disebuah jalan kecil yang rusak. Kami sempat tidak yakin apa benar ini jalan menuju kesana karena ini lebih nampak seperti sungai yang kering daripada jalan hehe… Kami keukeh melaju melanjutkan perjalanan ini. Padahal jalannya kecil, berlumpur dan sangat rusak. Tepi jalan ada jurang yang sangat curam. Suasananya juga sangat sepi, hanya kami yang melintas disitu. Tidak ada penduduk yang terlihat. Kabut tebal kok ya pas turun sehingga jarak pandang kami hanya terbatas 1-2 meteran. Makin ngeri aja nih. Saya sempat bilang ke mereka, “kalau memang susah jalannya, mendingan balik saja, nggak usah diteruskan”. Tapi Vina, istri Robert dengan santai bilang “tanggung san.. udah kepalang basah.. sekalian aja”. nekat juga pikir saya hehe… yaudah, saya pasrah duduk menikmati perjalanan ini. Perjalanan ke dunia antah berantah entah dimana. Setelah naik turun, kelak kelok setengah jam-an tibalah kami di sebuah lapangan kecil yang tertutup kabut. Namun kami tetap meyakini itu adalah lapangan. Menurut teman Vina (yang sudah di sms ebelumnya), itulah pemberhentian yang terakhir untuk menuju bukit Sikunir. Kami tidak melihat apa-apa disini karena kabut yang sangat tebal. Akhirnya kami turun dari mobil. Awalnya sih berniat “hiking” menuju bukit yang kami cari. Tapi setelah melihat medan dan cuaca, kami mengurungkan diri kesana. Terutama karena ada dua anak kecil (anak Robert & Vina) yang pasti akan rewel bila dibawa kesana. Kami memutuskan untuk lihat-lihat sekitar sini saja.
Ada beberapa batu besar yang tersusun “unik”. Ini mungkin “gapura” masuk ke danau ini. Kami melangkah hingga ujung gapura dan menemukan tumpukan batu yang disusun rapi yang ternyata menjadi pertanda bibir danau. “Ya, disini ada danau”, kata Vina. Tapi mana danaunya? Sepanjang mata memandang hanya kabut. Walau kami melihat air dipinggir tumpukan batuan tadi, tapi masih tidak yakin dengan keberadaan danau tersebut. Yasudah.. kami memutuskan untuk duduk beristirahat di batuan tersebut.
Udaranya sangat dingin. Angin berhembus lembut menambah dingin yang menusuk tulang. Suasananya tetap sepi, sangat tenang… Untuk saya, ini benar-benar damai.
Setelah duduk beberapa menit, kejutan yang kami harapkan datang… Kami sedang duduk menghadap ke arah danau (yang masih tidak terlihat). Kabut terus bergerak menutup berbagai sisi ruang kosong di danau. Seakan-akan berusaha menyembunyikan keindahan danau tersebut. Lalu mendadak kabut bergerak menyamping bak sebuah tirai jendela yang bergerak membuka. Dan.. seketika terpampanglah pemandangan indah Danau Cebong dihadapan saya.. Waw.. Saya langsung melongo…
danau cebong
yang tertinggal
“entrance”
sisi lain
bukit disamping telaga
Air danau yang nampak tenang, perbukitan hijau di sisi seberang, udara yang dingin, suasana yang tetap sunyi. Saya langsung teringat bayangan sebuah danau yang selama ini saya cari. Suasana “sunyi” danau Vyborg seperti diceritakan buku Marina Silvia. Nahh.. akhirnya saya menemukannya (yang mungkin mirip) disini. Saya langsung takjub geleng-geleng kepala. Ini tho… Akhirnya saya menmukannya setelah sekian lama.
Namun belum lama saya menikmati keindahannya, kabut tebal kembali menutup. Tapi tidak sampai sekitar 10 menit kabut kembali membuka. Pemandangan danau kembali terlihat. Ini seperti menonton pertunjukan pikir saya. Layar kabut menjadi tirai penutup. keindahan alam danau ini menjadi penampil pertunjukan yang utama. Dan alam seolah sengaja membuka dan menutup “tirai” kabutnya, supaya kami terus bisa menikmati keindahan ini dengan cara yang beda. Wah.. ini baru pengalaman istimewa. terbayar sudah proses perjalanan yang berat dan panjang kesini. Walau tak dapat Bukit Sikunir, setidaknya dapat tempat indah ini. Foto-foto diaatas menggunaka kamera analog LCA + dengan isi rol film Kodak ColorPlus asa 200.
Tanah Tinggi, 31 Desember 2011. Tidak terasa, sudah sekitar 10 tahun lamanya, saya terakhir berada di tempat ini. Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Suasana sudah berubah. Namun saya masih mengingat betul momen-momen berharga dalam hidup. Dan perjalanan ini, menjadi salah satu kesempatan bagi saya mengenang kembali suasana sekitar 10 tahun yang lalu.
Dulu tempat ini begitu sepi. Saya masih ingat hanya beberapa pengunjung selain “gang” kami yang datang ke tempat ini. Namun sekarang banyak orang datang. Dulu rasanya tempat ini begitu kecil. Namun sekarang rasanya begitu luas. Mungkin juga karena kejadian alam luarbiasa yang membuat perbedaan ini.
Dulu saya tidak memotret. Karena saya tidak punya kamera. Hanya teman saya yang memotret momen-momen istimewa kami, karena dia punya kamera. Jaman dulu kamera adalah barang yang istimewa. Karena mahal harganya, hanya beberapa orang yang bisa memilikinya. Namun sekarang, semua serba modern. Banyak orang motret disini. Dari yang menggunakan kamera hape untuk mengabadikan momen istimewa bersama keluarga, hingga kamera-kamera “berat” untuk mengambil momen keindahan landscape tempat ini. Tapi saya.. malah kembali ke teknologi yang sama seperti 10 tahun yang lalu. Saya datang kesini dengan kamera “rol2an” yang masih harus “diputer” sebelum digunakan untuk “njepret’. Dan hasilnya juga tidak bisa dilihat sekarang. Nanti pas saya sudah pulang ke Jogja, saya baru bisa melihat hasilnya (itupun kalau jadi). Dan ini sedikit “oleh2″ dari perjalanan saya “masa kini” dari tanah tinggi dieng…
land
walk through
bridge
another bridge
Yah.. jadi ini sedikit gambaran yang dapat saya rekam dari kawah terkenal Dieng setelah waktu berlalu 10 tahun lamanya semenjak saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya disini. Difoto dengan LCA + dengan amunisi Velvia 100.
No christmas tree in my house. No special decoration and christmas gift. Even no bells to ring… Santa Clause will not coming either. Coz my family don’t celebrate Christmas. But I have a gift for you. Not special dress you can wear. Or.. special cake you can taste. But only small Christmas Star. When the night is dark, then you will see. Just how bright this star can be. Shining it’s light upon us all. Merry Christmas…
*photo taken with LCA +, Kodak ColorPlus and star filter at Kedai Kebun.
Biasanya fotografer punya satu “kelebihan” / ”kesukaan” obyek untuk dipotret. Misalnya motret landscape atau pemandangan alam, motret model, motret macro (motret obyek kecil dengan lensa zoom yang sangat besar), human interest (motret ekspresi-ekspresi manusia), dan masih banyak lagi istilah yang lain. Walaupun faktanya para fotografer juga motret obyek yang lain, namun kadang penilaian dari orang lain yang melihat karyanya yang juga berperan dan menentukan, bahwa Si fotografer A lebih bagus motret alam misalnya. Atau si fotografer B lebih cocok motret hewan, misalnya. Dan lain-lain.
Saya juga sedang suka motret. Kadang sering juga ditanya, “mas nya suka motret apa?” Nah ini pertanyaan yang bingung untuk saya jawab. Kadang-kadang saya suka motret landscape. Tapi kalau ada obyek lain dijalanan yang unik, saya juga suka. kalau motret ada modelnya, apalagi cantik, saya juga suka, hehe…. Jadi kesukaan saya memang ganti-ganti alias “mencla-mencle” hehe… Ya mau gimana lagi, saya suka motret apa saja…
Tapi seorang teman pernah bilang, “mas sandi ini kayanya suka motret pohon”. Lho? saya tanya balik. “Kenapa?” Jawaban dia, “soalnya foto-fotonya banyakan pohon”. Saya mikir-mikir sejenak. Iya juga, hampir ada benernya kata-kata dia. Tapi lebih tepatnya bukannya saya suka motret pohon, kalau keseringan motret pohon sih, kayanya memang iya hehe… Baru saja saya tersadarkan…
Buat saya pohon itu selalu menarik. Mau dipotret sendiri dari berbagai sudut; bawah, samping atau atas (gimana motret pohon dari atas? pohon cabe kali bisa hehe..) semuanya tetap menarik. Mau dipotret rame-rame dengan pohon yang lain, juga menarik. Mau dipotret bagian perbagian; daunnya saja, batang pohon saja, atau rantingnya saja, buanyak pilihannya. Lalu pohon mau dijadikan fokus utama, atau jadi background saja, atau jadi siluet, semua bisa divariasikan. Pohon juga buanyak jenisnya. Pohon yang sejenis juga beda-beda bentuknya. Sama-sama pohon mangga, misalnya. Pohon di rumah saya dengan pohon mangga orang lain bentuknya pasti beda. Pohon juga mencirikan kondisi lokasi yang khas di suatu tempat. Di Indonesia, di Amerika, di Africa, pohonnya juga beda kan? Jadi buat saya, pohon mempunya banyak sejarah untuk diceritakan. Makanya saya nggak pernah bosan motret pohon.
difoto dari jauh.. pohonnya yang sebelah kanan..
mendekat ke bawah agak serong
bawah
samping dengan sunrise
Foto-foto diatas, obyeknya sama. Pohon yang sama. Tapi buat saya setiap sudut, rasanya ceritanya juga beda. Yaa.. gimana ya.. energynya bedalah.. susah mau dibilang dengan kata-kata hehe… ya coba sendiri aja motret pohon yang sama dari berbagai sudut. Ntar kan tahu sendiri rasanya. Foto diatas saya ambil dengan Olympus XA2 second murahan dengan amunisi Kodak Color DIY Redscale.
Ya kebetulan.. saya sering jalan-jalan di alam terbuka. Ya jelas seringnya ketemu pohon. Kalau saya sering jalan-jalan ke mall, mungkin obyek foto saya banyakan cewek cantik atau baju yang didiskon, “kemejanya dicoba dulu kaka’…” hehe…
Setelah mendapat kortingan beli tripod di salahsatu toko kamera di Jogja, memang sudah menjadi niat saya untuk memotret “long exposure”. Dan mumpung sedang ada pasar malam menyambut acara tahunan Sekaten di Alun-alun Yogyakarta, saya niatkan minggu sore ini (11 Desember 2011) untuk hadir disana. Walaupun pagi harinya sudah sangat puas jalan-jalan ke sebuah air terjun tersembunyi di daerah Magelang, dahaga saya untuk menghabiskan sisa rol di kamera tetap besar. Jam 5 sore, saya menstarter motor, siap nggowes ke alun-alun.
Sampai sana, ternyata suasana sudah ramai. Saya pikir sekaten hanya ramai pas malam hari. Tapi ternyata sore hari juga ramai. Mungkin karena hari libur, pikir saya. Ada banyak obyek untuk dipotret. Saking banyaknya saya malah jadi bingung mau motret apa. Terusterang, saya punya “sindrom” males motret begitu melihat obyek foto menarik yang jumlahnya banyak. Sama ketika waktu wisata kemana gitu.. Begitu lihat tempatnya luarbiasa bagus.. Saya malah mandheg memotret. Ini juga terjadi sekarang… Yah.. saya putuskan sore ini untuk jalan-jalan saja. Mondar-mandir, melihat-lihat dan hanya dua tiga kali motret. Saya sempat mendapat satu foto yang unik “buat saya” seperti ini.
mas-mas yang satu ini saya bilang cukup nekat. dia berdiri di ujung kora-kora yang diayunkan sambil joged ngikutin irama musik dangdut koplo yang diputer super kuenceng. Demi untuk menarik minat orang naik wahana ini.
Begitu malam tiba, saat matahari sudah hilang dibalik horizon, langit mulai hitam pekat. Nah ini.. kesempatan bagi saya untuk menjajal long exposure. Memang tujuan saya dari awal datang kesini emang untuk menjajal ini. Saya keluarkan tripod murahan dan kamera analog dan cari beberapa posisi yang yahud. Dan ini sedikit oleh-oleh.
menunggu giliran
dana ria
lingkaran pada umumnya
coretan cahaya
Sayang sekali, baru beberapa cepret, angka shutter sudah menunjukkan angka 36. yahh.. udah habis dong film nya.. Padahal baru mulai asik njepret… menikmati pengalaman pertama long exposure. Yaahhh.. mau gimana lagi. keberadaan saya disekaten sore ini cuman sampai disini. Yowis.. saya sudahi dan “kukut”.. Saya pasti akan kembali lagi. Foto-foto diatas diambil dengan kamera Analog LCA + dengan isi Kodak ColorPlus kagak pake ngedit.
There was a little girl. With straight bangs of forehead. And small pigtails in the back. She had squinted eyes with single eyelid. But the way she looked very sharp. Her skin was so bright. Brighter while she smile. Althought some teeth was uneven. But she look cute with those…
She loved to tell me stories. About her school, home.. or her toys. As a child, of course she love playing. Jumping, running, climbing, or busy with new things. But she most love drawing.
There was a little girl… And I’m just telling…
All photos, taken with LCA + and Sensia 100 Expired.
Hanya dalam waktu kurang dari sebulan, saya sudah dua kali mengunjungi tempat yang sama, Candi Boko. Dan selama dua kali itu saya berjalan menyusuri rute yang sama, motret obyek yang sama, mengeksplorasi, berinteraksi ke setiap ruang dan sudut yang sama. Bedanya, yang pertama saya datang di pagi hari pas matahari mau terbit dan yang kedua saya datang pas sore hari saat matahari mau tenggelam.
Minggu, 18 September 2011, jam 3an sore, bersama rombongan Klastic dalam acara photowalking, saya memilih untuk “berpisah dari rombongan dan berjalan sendiri. Sungguh, tempat ini sangat luas, bukan saja karena fakta area candi yang memang luas bila diukur secara fisik, namun juga kenyataan banyak hal menarik yang “baru”, yang saya temukan kali ini walaupun saya sudah beberapa kali datang kesini. Rasanya saya tidak akan pernah bosan untuk datang lagi kesini suatu saat nanti.
Dalam suasana sunset, tempat ini terasa berbeda. Memang lebih banyak pengunjung yang datang di sore hari dibandingkan pagi hari yang sepi. Namun keramaian tersebut tidak mengurangi “kesakralan” atmosfer suasana Candi Boko yang konon katanya dulu memang digunakan untuk berbagai aktivitas spiritual nenek moyang jaman dahulu. Saya jadi membayangkan hidup di jaman dulu, berada di sini dalam suasana sunset yang sama.
Ada upacara besar. Banyak orang datang, semua khusyuk dalam sebuah upacara ritual besar yang dipimpin seseorang yang dianggap suci. Harum dupa menyebar di setiap sudut, bercampur dengan bau berbagai macam makanan sesaji sebagai persembahan untuk para Dewa. Chanting mantra dan doa dari ratusan hingga ribuan orang yang datang membangun vibrasi lembut yang kuat menggetarkan perasaan orang yang datang. Menambah kekhusyukan orang dalam ritual besar ini… *Heyy….! Bangun..! Ahh… saya terlalu berimajinasi… hehe.. Ini semua hanya khayalan saya membayangkan apa yang terjadi di masa lalu. Saya langsung terbuai, sesaat setelah memasuki gerbang “mesin waktu” candi Boko yang masif ini. Mungkin ini memang bukan gerbang candi yang biasa. Jangan-jangan ini mungkin memang mesin waktu yang mengantar kita ke dimensi suci yang lain. Ahh.. ini kibulan saya doang..
Gerbang Surga
Mesin Waktu
Massive
Into The Light
Difoto dengan kamera manual LCA + dengan rol film Agfa CT Precisa. Dan seperti biasa nggak sempet diedit…
Pagi-pagi jam 6.00 saya sudah tiba di pucuk Stumbu, sebuah puncak bukit yang melegenda buat para fotografer yang berada di dekat Candi Borobudur, Muntilan, Jawa Tengah. Tujuan saya tak lain adalah memotret Candi Borobudur dari atas sini. Keberadaan tempat ini memang sudah banyak diketahui oleh para fotografer lokal. Bahkan beberapa turis mancanegara pernah sampai berhari-hari kesini untuk mendapat momen terbaik memotret Candi Borobududur.
Suasana terbaik untuk memotret Candi Borobudur dari sini adalah saat sunrise di pagi hari. Kalau momennya tepat, siluet Candi Borobudur terlihat menakjubkan dengan latar belakang sunrise di belakangnya. Kalau beruntung, ada kabut yang nampak berlapis-lapis disekeliling siluet Candi sehingga seolah-olah Borobudur nampak seperti diatas awan. Nah… inginnya saya memotret yang seperti itu.
Tapi ternyata kondisinya berbeda. Pas saya sampai sana, justru kabut sangat tebal, sehingga Borobudur justru tidak tampak. Ya… sempat muncul beberapa menit, namun itupun sangat terlihat tipis karena tertutup kabut yang lebih tebal. Selain itu, saya salah “strategy”. Saya datang hanya dengan membawa toycam yang “zoom”nya jelas sangat terbatas. Padahal obyek utamanya, Candi Borobudur terlihat sangat keciiilll sekali disini. Sedangkan fotografer yang lain datang dengan membawa kamera-kamera digital canggih, lengkap dengan lensa tele-nya yang panjang-panjang. Yaudahdeh.. pasrah hehe….
Nggak berhasil memotret borobudur, perhatian saya beralih ke hal-hal yang lain di sekitar bukit Stumbu. Siluet pepohonan dengan balutan kabut yang tebal justru menarik untuk saya. Yasudahlah.. njepret ini saja…
redland #5
redland #4
redland #7
Lalu saya juga mengkolaborasikan dengan versi “gloomy”nya dengan kamera saya yang lain.
redland #6
redland #2
Foto-foto kemerahan dipotret dengan Lomo LCA + dan amunisi Velvia 100F. Sedangkan foto kekuningan dipotret dengan Olympus XA2 dengan amunisi Kodak Colorplus 100 DIY Redscale. Maaf.. saya nggak memajang foto Borobudur disini hehe… Walau gak dapat foto Borobudur, saya puas bisa sampai tempat ini. Sungguh suasananya sangat hening dan damai. Cocok kalau mau meditasi disini. Gak usah saya ceritakan lengkap dehsuasananya. Pokoknya peaceful. Silakan coba langsung datang aja untuk mencoba.

Akhirnya Hot Thread Gan! Salah satu thread saya di kaskus menjadi Hot Thread (postingan paling hot se-jagat kaskus). Yang artinya, link thread saya dipajang di halaman utama portal paling besar di Indonesia ini.
Ini sebenarnya hanya iseng (wong saya juga nggak dong “cara main” di kaskus). Waktu bikin emang nggak kepikir akan jadi HT. Awalnya saya nulis sesuatu di blog saya tentang catatan perjalanan saya ke sebuah tempat indah di Gunung Kidul. lalu saya iseng memposting juga ke Kaskus pada tanggal 26 Juni 2011. Dan ternyata malah jadi HT pada tanggal 21 November 2011 (jadi memakan waktu hingga 5 bulan sampai menjadi HT. Lumayan lama ya…
Imbas positifnya traffic website saya meningkat sangat drastis pada hari ini. Biasanya hanya 20-60 hits. Namun sampai dengan malam ini, hari ini saja tercatat 529 hits (dan kayanya terus meningkat lagi sampai selesai jadi HT).
Imbas negatifnya, beberapa foto saya pernah dicopas di thread yang lain (utungnya udah dihapus sama momod) tanpa meminta izin publikasi kepada saya. Ini kejadiannya malah sebelum jadi HT. Mungkin dia ngejar postingan kali ya.
Lalu rasanya gimana? Yaa.. cukup senang karena hits blog saya nambah hehe.. Dan yakin memang kaskus salah satu portal terbesar di Indonesia yang berpengaruh pada segala aspek dunia “perwebsite-an” di Indonesia.